13 February 2014

Hujan dan Pelarianku


"Ardi, Andi, cepat masuk rumah!" terdengar teriakan Ayah dari dalam rumah. Aku diamkan saja. Toh ini hari Sabtu. Kata Ayah aku boleh main sampai malam.

Duar!
Terdengar suara guntur dari balik bukit. Awan gelap berarak perlahan meutupi desa ini. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.

"Ayo cepat masuk!" teriakan Ayah semakin kencang. Tak kalah menggelegar dari guntur barusan.


Ah, ayah apa-apaan sih. Aku gak bakal kenapa-kenapa. Toh cuma air hujan. Kalau basah, nanti juga bisa dikeringkan. Aku menggerutu dalam hati. Kesal karena Ayah tak bisa mengerti anaknya sendiri.

"Dor! Dor! Mati kamu!" Andi mengarahkan ujung pistol kayunya tepat ke dadaku.

"Aaaaak.." Aku terjatuh di tanah. Pura-pura mati karena tertembak. Sedangkan Andi malah tertawa terkekek melihat aku pura-pura meregang nyawa.

"Ayo cepat! Jangan ngeyel!" Ayah sudah jengkel. Kemudian ia menghambur ke halaman. Menghampiri letak kami, aku dan Andi, adikku, yang sedang asyik bermain perang-perangan.

Ayah meraih tangan kami dan menggandeng kami masuk rumah. Kami menurut saja.


***

Aku masih berusaha untuk terus berlari. Membelah hutan. Tanpa alas kaki. Tanah yang becek memperlambat lariku. Membuat langkah ini terasa semakin berat. Sesekali aku terpeleset dan jatuh, kemudian bangkit dan berlari lagi.

"Aduh.." aku meringis kesakitan. Aku berhenti sebentar. Darah mengucur dari betisku. Sepertinya sobek karena batang pohon yang melintang tadi. Lambat laun darah merah yang kental berubah menjadi lebih cair. Hujan melarutkannya.

Aku menengok ke belakang. Pengejarku sudah tidak kelihatan lagi. Aku memperlambat lariku.

***

"Ustadz, saya pamit pulang dulu," pamitku pada Ustadz Abu. Beliau adalah mentorku. Aku mulai rutin belajar agama belum lama ini.

Semua berawal sekitar sebulan yang lalu ketika aku iseng sholat Maghrib di langgar ini. Iya iseng, aku memang jarang sholat berjamaah di masjid. Sekalinya sholat jama'ah cuma kalau Sholat Jum'at saja.

Kebiasaan di sini setelah sholat Maghrib langsung dilanjutkan dengan ceramah singkat hingga menjelang adzan Isya'. Ustadz Abu mendapat jatah mengisi ceramah seminggu tiga kali. Selasa, Kamis dan Sabtu. Kebetulan pada waktu itu hari Sabtu. Beliau mengisi ceramah dengan cerita tentang pengalaman beliau belajar agama di Mindanao, Filipina. Belajar fiqih, berceramah hingga menembak. Kenapa menembak? Karena beliau berpedoman pada hadist nabi yang menyatakan bahwa laki-laki itu harus bisa 3 hal: berkuda, berenang dan memanah. Beliau memaknai bahwa memanah itu sama saja dengan menembak.

Beliau sangat hafal tentang tipe-tipe senjata api. Mulai dari AK47, produk kebanggaan Uni Soviet yang digemari para teroris di berbagai belahan dunia hingga Steyr AUG buatan Austria. Aku suka gayanya bertutur. Berapi-api. Mengingatkanku pada almarhum Ayahku.

"Iya nak Ardi. Kajian kita lanjutkan lagi lusa," Ustadz menjawab pamitku dengan senyum yang meneduhkan. Lagi-lagi, mengingatkanku pada Ayah. Aku jabat tangan beliau dan mengucapkan salam. Kemudian bergantian dengan Huda dan Masyrur, murid yang belajar agama ke Ustadz jauh lebih lama daripada aku. Mereka berdua juga pendatang sepertiku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di luar masih hujan. Di langgar hanya tinggal kami bereempat. Suasana sudah singup sekali.

Kami berempat berjalan ke luar langgar. Ustadz, Huda dan Masyrur keluar lewat pintu depan. Sementara aku lewat pintu belakang karena aku tadi menaruh payungku di sana.

Semenjak aku bersalaman dengan ustadz, aku mulai merasakan firasat aneh. Aku merasa ada orang-orang yang sedang memperhatikan kami dari kejauhan.

Sebelum menjejakkan kaki keluar dan mengambil payung, aku matikan dulu lampu langgar. Ketika aku menengok ke depan, dari kejauhan aku lihat samar-samar ada segerombolan orang berjalan merunduk dari semak-semak dengan pakaian serba gelap dan membawa senjata api. Iya benar aku yakin sekali, mereka membawa senjata api!

Aku mengurungkan niatku untuk mengambil payung. Aku yakin payung itu berada di dalam jangkauan pandangan mereka. Aku memilih untuk bersembunyi di tempat wudhu.

Sejurus kemudian dengan cepat segerombolan tadi menyergap Ustadz, Huda dan Masyrur yang sedang asyik berbincang-bincang di depan langgar. Ketika disergap, Ustadz diam saja tidak melakukan perlawanan. Huda dan Masyrur nampak kaget dengan penyergapan tersebut. Huda berhasil ditangkap paksa, sementara Masyrur memilih untuk lari. Beberapa orang dari gerombolan tadi mengejar Masyrur. Selang beberapa detik terdengar suara ledakan senjata api. Dor! dor! dor!

Salah seorang yang aku pikir adalah komandan mereka berbicara lewat headsetnya "Satu target berhasil dilumpuhkan."

"Allahuakbar!" Huda berteriak sembari meringis karena tangannya diborgol secara paksa oleh mereka.

Aku harus kabur. Aku tidak ingin tertangkap juga!

Aku menyelinap melompati tembok belakang langgar. Ketika aku baru saja menginjakkan kaki di tanah, baru aku sadar di kejauhan 200 meter sana ada segerombolan pasukan berseragam hitam-hitam juga.

Aku kemudian berlari. Aku harus kabur. Dor! Terdengar suara tembakan lagi. Kali ini aku yakin akulah yang menjadi sasaran tembak. Aku terus berlari ke arah semak-semak. Berlari ke arah sungai.

Dor! Peluru terbang menyusur diantara kedua kakiku. Aku masih selamat, untung saja tembakannya meleset. .
***

Aku masih berlari. Melewati hutan jati dan telah sampai di hamparan ladang jagung yang belum tuntas dipanen.

Nafasku tersengal. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku. Aku menengok ke belakang. Di antara rerimbunan hutan di kejauhan sana sudah nampak gerombolan pasukan yang sedari tadi mengejarku. Sial, lari mereka kencang sekali.

Dor!

Tiba-tiba dadaku terasa panas. Aku menunduk melihat dadaku sendiri. Ada darah yang mengalir dari situ. Sepertinya tembakan barusan tepat mengenai dada kananku. Kakiku terasa berat sekali. Aku tak kuat lagi menahan tubuhku. Aku jatuh terperosok di pematang ladang. Aku pegangi luka di dadaku yang semakin lama semakin perih. Sakit sekali.

Terdengar suara derap sepatu pasukan tadi berlari ke arahku. Aku coba bangkit untuk lari lagi. Aku pacu kakiku sekuat tenaga. Baru beberapa langkah kemudian terdengar lagi.

Dor! dor!

"Hei kenapa kamu tembak lagi? Dia sudah tak berdaya!"

"Maaf komandan, target berusaha melarikan diri." jawab seorang dari mereka yang sudah berhasil mendaratkan 3 peluru di tubuhku. Masing-masing 1 peluru untuk dada, perut dan kaki kananku.

"Sudah. Cepat periksa dia!"

Salah seorang dari mereka mendekati tubuhku. Ia membungkuk menghadap tubuhku.

"Bagaimana kondisinya? Apa benar ini orangnya?" tanya komandan tadi ke salah satu anak buahnya yang sedang memeriksa tubuhku.

Ia memeriksa nadi di tanganku, kemudian leher. "Target meninggal dunia. Tapi, bukan ini orangnya..." Air mata samar-samar menetes dari ujung mata seorang perwira yang tadi berhasil menembak mati aku. Sebenarnya aku tak terlalu yakin, itu air mata atau tetes air hujan.

"Kamu yakin?" tanya komandan dengan wajah gusar.

"Aku yakin ini bukan target kita. Ini Ardi, kakak kandungku."

Dor!

***

06 February 2013

Sakit yang Saya Derita (Part II): Hipertiroid Subklinis


Akhir-akhir ini saya sering merasa tidak enak badan. Badan terasa lemas, mudah capek, mudah mengantuk, susah konsentrasi, pencernaan terganggu, badan pegal-pegal dan penglihatan menjadi kabur (mengenai sakit mata, baca cerita ini). Sakit ini sangat mengganggu pekerjaan saya. Banyak pekerjaan penting menjadi terbengkalai atau lupa untuk dikerjakan. Semua menjadi kacau.

05 February 2013

Sakit yang Saya Derita (Part I): Kacamata

Saya akan menceritakan tentang sakit yang saya derita selama ini.

Berawal sekitar bulan Juni 2012 yang lalu, saya mengeluhkan penglihatan saya yang mulai kabur. Tidak kuat melihat cahaya yang berlebih. Mata jadi cepat lelah kalau terlalu lama di depan monitor. Padahal pekerjaan saya selalu membutuhkan kerja di depan monitor. Setiap hari, dari Senin sampai Jumat. Saya pikir mata saya sudah minus, mengingat Ibu dan Bapak adalah pemakai kacamata.

04 February 2013

Indie Art Wedding

 Ars longa, vita brevis
Saya  tidak akan bercerita tentang bagaimana tips membuat pesta pernikahan secara indie. Dalam tulisan ini saya akan memperkenalkan sebuah duo yang seharusnya kalian tahu: 'Indie Art Wedding'.


03 February 2013

Ketika Aku Tidur

Aku terdampar di serambi rumahmu. Duduk, menyesap teh hangat buatanmu. Uap panas yang membumbung tinggi dari cangkir ini, selalu mengingatkanku akan cita-cita kita berdua: tua dan mati bersama.

Aku teringat perkataanmu tempo lalu, "Kalau sedang merindu dan di luar sedang hujan, keluarlah. Berhujan-hujanlah. Hujan akan meluruhkan rindumu."

Aku pikir kali ini aku tidak perlu hujan-hujanan, karena peluruh rinduku ada di depan mataku. Maka aku biarkan diriku meluruh sehabis-habisnya.

02 February 2013

Membangun Rumah Kita


Aku ingin membangun rumah kita,
berbahan baku setia.
Kata orang-orang sekitar
setia adalah bahan baku terkuat di seluruh dunia.
Bisa bertahan beratus-ratus masa.
Dan kita bisa terus bercengkerama
menceritakan hari-hari berlalu
sambil menunggu malam menjadi debu. 

01 February 2013

Athea


Sudah berlalu 5 jam dari jam pulang kantor normal. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam. Kalau bukan karena Pak Bos yang semena-mena, mungkin sekarang aku sudah bergabung bersama teman-temanku di kafe biasanya. Menghabiskan malam.

"Permisi Mas Athea, ini kopinya," sapa Pak Dirman sembari menaruh kopi panas pesananku. Pak Dirman sudah hafal di luar kepala rumus paduan kopi kesukaanku: Kopi 2, gula 1, krim 1.

 
;