01 February 2013

Athea


Sudah berlalu 5 jam dari jam pulang kantor normal. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam. Kalau bukan karena Pak Bos yang semena-mena, mungkin sekarang aku sudah bergabung bersama teman-temanku di kafe biasanya. Menghabiskan malam.

"Permisi Mas Athea, ini kopinya," sapa Pak Dirman sembari menaruh kopi panas pesananku. Pak Dirman sudah hafal di luar kepala rumus paduan kopi kesukaanku: Kopi 2, gula 1, krim 1.

"Makasih, Pak," jawabku ringan sembari sesekali memijat-mijat lingkar mataku. Arus darah di sekitar situ sepertinya terhambat. Kepalaku pusing, pandanganku berbayang.

"Lembur lagi mas?"

"Hehe, iya ni, Pak. Kayaknya malam ini nginep di kantor lagi."

Pak Dirman adalah CS paling senior di kantor ini. Dia tinggal di gudang belakang bersama istri dan anak keduanya yang masih SMP. Anak pertamanya tinggal di luar kota bersama mertua.

Aku melongok keluar jendela. Dari ketinggian sini terlihat jelas kemacetan jalanan Jakarta di malam Minggu. Mobil-mobil mengular. Jarak satu dengan yang lainnya hanya beberapa senti. Pertumbuhan jalan raya di Jakarta hanya 0,01% per tahun, sedangkan pertumbuhan kendaraan mencapai 11% per tahun. Lama-lama jalanan Jakarta akan dipenuhi oleh kendaraan yang saling berdesakan. Mungkin suatu saat nanti aku perlu ikut les terbang.

"Triiiiiiiiing Triiiiiiiiing"

Handphoneku berdering mengagetkan lamunan. Aku intip sekilas. Nomornya tidak aku kenali. Aku diamkan saja. Tiga kali ia berdering lama kemudian mati lagi. Terpaksa aku mengangkatnya. Barangkali ini penting.

"Halo, ini siapa?"

"Selamat malam. Ini aku, utusan Tuhan," suara disana terdengar berat sekali.

Ah malam-malam begini masih ada yang iseng ngerjain. "Tuhan yang mana?"

"Aku utusan Tuhan yang dianut Ayahmu."

"Kamu malaikat?" aku berusaha bercanda.

"Bisa dibilang begitu. Malaikat itu sebutan dari kaummu. Kami menyebut kami sendiri sebagai pelayan Tuhan"

"Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu?"

"Pada umur 8 tahun kamu pernah hampir mati karena tersedak biji rambutan. Untung saja Ayahmu bisa menyelamatkanmu."

Bagaimana ia bisa tahu? Peristiwa itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku saja hampir lupa. Pada saat peristiwa itu terjadi hanya ada aku, Ayah, Ibu dan adikku yang sedang disusui. Ah mungkin salah satu dari mereka memberitahu ke orang ini. "Oh. Ada urusan apa kamu meneleponku?" aku iseng saja meladeni orang aneh ini. Lumayan buat hiburan di malam suntuk begini.

"Aku ditugaskan untuk mengajakmu memeluk agama kami."

"Kenapa gak langsung ketemu saja di sini? Kan lebih enak kalau kita ketemuan sambil ngopi-ngopi?" Aku seruput sedikit kopiku yang asapnya menyembul ke atas menutupi layar monitor komputer.

"Ini sudah bukan zaman nabi. Kami tidak boleh sesukanya menampakkan diri. Untuk menampakkan diri di duniamu sekarang jauh lebih susah daripada di masa lalu. Energi yang dibutuhkan jauh lebih besar. Kami tidak mau capek-capek ngurusin kalian yang pura-pura tidak sadar kalau sejatinya kalian adalah umat Tuhan. Dan satu lagi, aku tidak suka kopi."

"Ngomong-ngomong tentang nabi, kenapa nabi hanya ada di zaman dulu saja? Zaman kami juga butuh nabi."

"Ada banyak nabi yang sudah kami sebar di dunia. Kamu hanya tidak tahu saja."

"Oh begitu. Jadi apa maksud kamu meneleponku malam-malam begini?"

"Mengajakmu ke arah kebaikan. Memeluk agama kami."

"Jadi pengikut Tuhanmu ya? Mmmm, sebenarnya aku hafal semua doa untuk ibadah sih. Tapi ya sebatas hafal. Males mempelajari arti dari tiap-tiap bacaannya."

"Bukannya dulu waktu SMP kamu sudah pernah khatam kitab suci kami?"

"Ah itu udah dulu banget. Kalau tidak dipaksa ngaji, mungkin sampai sekarang aku masih buku 1. Sekarang aku lagi sibuk sama kerjaan. Gak ada waktu buat mempelajari arti dari doa-doa. Dan kenapa bacaannya harus pakai Bahasa Arab coba? Kalau pakai Bahasa Indonesia kan lebih enak."

Suara di sana tidak segera menyahut pertanyaanku tadi. Ada jeda sejenak. Mungkin ia sedang berfikir. "Ini semua sudah diatur. Kalau kamu percaya, kamu juga harus mematuhi aturan-aturannya."

"Bukannya Tuhan itu Maha Mendengar? Bisa mendengar suara hati sekalipun. Kenapa aku tidak boleh berdoa dengan Bahasa Indonesia?"

"Ah benar kata pelayan yang lain. Kamu ini bebal. Aku akan memberikan mu'jizat ini ke orang yang lain saja."

"Jadi?"

"Aku tidak ingin memaksamu. Tidak ada paksaan untuk memeluk agama kami. Sesungguhnya kehidupan di dunia kamu ini hanya sementara, yang abadi dan kekal itu ada di akhirat sana."

"Kalau sudah abadi di akhirat sana dan hidup bahagia, terus endingnya apa? Kalau cuma adem ayem dan gak ada tantangan, ya aku pilih hidup selamanya di dunia," aku berusaha bertanya seketusnya biar ia segera menutup telepon dan aku bisa segera melanjutkan pekerjaanku.

"Ah sudahlah. Aku pikir aku telah menunaikan tugasku. Membujukmu ke jalan kebaikan. Keputusan akhir ada di tanganmu. Selamat malam."

Telepon terputus. Sejenak aku diam untuk merenung dalam. Dalam sekali. Kemudian tawaku meledak sejadi-jadinya. Gila, iseng banget ya ini orang nelpon malam-malam cuma mau ngajak memeluk suatu agama. Aku lihat kalender. Ulang tahunku masih empat hari lagi. Berarti aku sedang tidak dikerjain sama teman-teman.

Masa bodoh dengan siapa tadi yang menelpon. Aku harus segera menyelesaikan proposal ini. Besok pagi-pagi buta harus sudah jadi.

Diantara kesibukanku mengetik ulang tiba-tiba telepon bunyi lagi. Nomornya asing, tapi beda dengan yang tadi. Pasti ini temannya yang lain. Aku angkat saja.

"Halo?"

"Selamat malam hamba Tuhan," suaranya beda dari yang tadi. Suaranya lebih lembut. Ini pasti seorang wanita. Aku tersenyum.

"Kamu malaikat kan?"

"Iya."

"Tadi ada malaikat lain yang meneleponku."

"Itu beda dengan kami, walaupun sama-sama Samawi."

"Jadi apa maksudmu menelponku malam-malam begini? Mengajakku untuk memeluk agamamu?"

"Betul. Memeluk agama yang juga dipeluk oleh Ibumu. Dibanding agama yang tadi, agama kami lebih santai. Kamu cukup hanya beribadah seminggu sekali. Tidak ada aturan tentang mana makanan dan minuman yang tidak boleh kamu konsumsi."

"Jangan membawa-bawa Ibuku. Aku tidak suka."

"Oh, maaf. Jadi bagaimana dengan penawaranku?"

"Aku tidak pandai bernyanyi."

"Itu bukan syarat utama untuk masuk ke lembah keselamatan kami. Banyak miliuner dan artis terkenal yang memeluk agama kami. Kalau kau bersungguh-sungguh, kamu bisa jadi apa yang kamu mau." Aku diamkan saja omongannya. Semua orang yang bersungguh-sungguh kelak akan berhasil, bukan? "Bagaimana kalau aku memberikan kamu sebuah mu'jizat? Menyembuhkan orang sakit? Aku dengar Ibumu sedang sakit parah."

"Dokter akan segera menyembuhkannya. Tidak perlu mu'jizatmu. Dan maaf, aku tidak bisa memeluk agamamu. Aku tidak suka menyembah manusia."

"Oh, please. Jangan lihat dari sudut pandang itu. Selama kau yakin dan merasa nyaman dengan agama kami, kenapa harus mempermasalahkan hal tersebut?"

"Aku tidak ingin terikat dengan agama apa pun. Ini prinsipku. Tak ada yang bisa merubahnya meski Ayah dan Ibu sekalipun."

Percakapan berhenti sepersekian menit. Kemudian ia, si wanita utusan dari agama Ibuku kembali membuka percakapan kembali. "Baiklah kalau itu keinginanmu. Aku tidak bisa memaksa. Ini kesempatan terakhirmu untuk berbincang denganku. Jadi kalau kau berubah pikiran dan ingin bergabung, kau tidak perlu melapor padaku. Langsung saja meyakini dengan hati. Tuhan Maha Mengerti."

"Iya aku mengerti."

"Kamu bukan Tuhan."

"Iya aku mengerti."

"Aku undur diri dulu. Selamat malam."

Telepon terputus. Kali ini aku tidak tertawa seperti sebelumnya. Sepertinya ini benar-benar nyata. Aku sedang ditawari mu'jizat oleh dua agama yang berbeda. Apakah hanya aku satu-satunya yang dihubungi? Apakah semua orang juga dihubungi sepertiku? Aku tak tahu.

Semua tawaran aku tolak. Salah siapa namaku Athea? Kalau aku memilih untuk tidak beragama, ya ini bukan urusan siapa-siapa.

"Triiiiiiiiing Triiiiiiiiing"

Oh sial. Nomor asing lagi. Langsung aku angkat saja. Kali ini coba aku diamkan. Aku tidak ingin menyapa dulu. Kemudian suara di sana angkat bicara, "Wahai Athea Yang Suci?" Suara di sana menyapaku dengan nada penuh hormat. Walaupun aku tidak melihat siapa di sana, namun aku bisa merasakan kelembutan dan ketulusan hanya lewat suaranya saja.

"Iya, halo? Ini siapa?"

"Ini aku Destrinos. Umatmu di masa depan."

"Kamu umatku?" Aku mengernyitkan dahi. Mencoba merangkai logika yang telah berceceran.

"Iya, kamu adalah Tuhan kami di masa depan."

Aku tekan tombol End. Percakapan aku tutup. Jantungku berdegup kencang sekali.

***

14 comments:

  1. aku merinding.. aku ingin jadi umatmu

    ReplyDelete
  2. Kasian sekali hidupnya hanya berdasarkan namanya..
    inget temen saya yang nggak ngilangin nama baptisnya biarpun sekarang hafalannya udah banyak.

    ReplyDelete
  3. ak radong wen, terlalu bodo ki aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah mas dingox itu sukanya merendah deh :)

      Delete
  4. Dari judul kukira tentang mitos-mitos gitu (athena) apalagi gambarnya itu, dari sekian paragraf pertama kukira cerita metropolitan, eh ternyata... :D

    Cool!

    ReplyDelete
  5. Seorang umat berdialog dengan tuhannya melalui telepon. Entah itu berapa abad ke depan, tapi hampir mirip seperti orang-orang zaman sekarang yg berdoa melalui social media.

    Ceritane menarik. Terpampang nyata cethar membahana badai siklon tropis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukannya social media itu sebuah agama? kita lebih sering sibuk membaca wall atau timeline ketimbang mengingat Tuhan. :)

      Delete
  6. Replies
    1. bukan MLM juga sih.
      agama2 yg lain berusaha merekrut athea agar mjd nabi mereka karena tahu dia akan ditasbihkan mjd Tuhan di masa depan :D

      Delete
  7. apik men tulisanmu, Wen. Pun rapi. Jalan cerita dan kerapian tulisan beradu dengan cukup cantik.(Ehem, pujian seorang editor mahal, lho)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun aku dipuji sama editor kondang majalah kampus ternama.. *mata berbinar-binar*

      Makasih mbak :)

      Delete

 
;